
BRIN dan Yayasan Pertamina Ubah Sampah Plastik Menjadi Bahan Bakar
KabarJawa.com– Di tengah krisis pengelolaan sampah yang terus menghantui Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), lahirlah sebuah inovasi yang membawa harapan.
Melalui kolaborasi riset, teknologi, dan pemberdayaan masyarakat, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Pertamina Foundation meluncurkan mesin pengolah sampah plastik bernilai rendah menjadi bahan bakar cair bernama petasol.
Peluncuran yang berlangsung di Bantul, Senin (9/6/2026), menjadi simbol perubahan paradigma pengelolaan sampah di Indonesia.
DIY menghadapi permasalahan sampah yang semakin kompleks. Sebagai kawasan pendidikan, budaya, sekaligus destinasi wisata nasional, volume sampah terus meningkat dari tahun ke tahun.
Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) menunjukkan timbulan sampah di berbagai wilayah DIY mencapai ratusan ton setiap harinya.
Masalah Sampah DIY
Di antara berbagai jenis sampah, plastik merupakan permasalahan yang paling pelik. Plastik sulit terurai secara alami dan sebagian besar masih berakhir di tempat pengolahan akhir (TPA), saluran air, sungai, bahkan laut.
Yang lebih memprihatinkan, plastik bernilai rendah seperti kemasan sachet, plastik multilayer, styrofoam, bahkan plastik kotor hampir tidak memiliki nilai jual sehingga seringkali hanya menjadi residu yang menumpuk.
Kondisi ini membuat banyak kelompok masyarakat pengelola sampah dan TPS3R kewalahan. Mereka menghadapi tumpukan sampah plastik yang tidak dapat diserap oleh industri daur ulang konvensional.
Tidak sedikit sampah yang berakhir di tempat pembuangan sampah atau dibakar orang secara terang-terangan sehingga menimbulkan ancaman baru berupa pencemaran udara dan kerusakan lingkungan.
Di tengah permasalahan tersebut, teknologi pirolisis Fastpol hadir memberikan solusinya. Kepala BRIN melalui Deputi Bidang Pendayagunaan Riset dan Inovasi Dr. R. Hendrian menegaskan inovasi petasol lahir sebagai jawaban atas permasalahan sampah plastik.
Penjelasan Petasol Diluncurkan di Bantul
Menurut Hendrian, teknologi pirolisis Fastpol mampu mengubah sampah plastik bernilai rendah menjadi bahan bakar cair yang memiliki manfaat ekonomi sekaligus manfaat lingkungan.
“Teknologi ini tidak sekedar menghasilkan bahan bakar. Fokus utamanya adalah menyelesaikan permasalahan sampah plastik yang selama ini menjadi residu dan tidak memiliki nilai ekonomi. Energi yang dihasilkan menjadi nilai tambah dari proses pengurangan sampah,” ujarnya.
Hendrian menjelaskan, teknologi ini sejalan dengan konsep ekonomi sirkular yang saat ini menjadi arah kebijakan pengelolaan sampah nasional.
Melalui pendekatan ini, sampah tidak lagi menjadi sumber permasalahan, namun menjadi sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali.
Ditegaskannya, pengembangan bahan bakar dari sampah plastik tidak dimaksudkan untuk menjadi pesaing produksi bahan bakar minyak Pertamina.
“Volume sampah plastik yang tersedia sangat kecil dibandingkan kebutuhan bahan bakar nasional. Oleh karena itu, teknologi ini lebih tepat diposisikan sebagai solusi lingkungan yang menghasilkan manfaat energi tambahan, bukan sebagai pengganti bahan bakar konvensional,” ujarnya.
Penjelasan ini penting. Sebagian masyarakat masih memandang teknologi pengolahan sampah menjadi bahan bakar sebagai ancaman bagi industri energi nasional. Padahal, tujuan utama program ini adalah mengurangi volume sampah yang mencemari lingkungan.
Lebih lanjut Hendrian menilai keberhasilan teknologi pirolisis tidak hanya bergantung pada kecanggihan mesin.
Ia menekankan pentingnya perubahan sistem pengelolaan sampah secara menyeluruh, mulai dari pemilahan di tingkat rumah tangga hingga pemanfaatan akhir.
Selama puluhan tahun, kata dia, banyak daerah yang masih mengandalkan pola kumpul-angkut-timbun. Sistem ini sudah tidak memadai lagi untuk mengatasi peningkatan timbulan sampah yang terus terjadi setiap tahunnya.
“Ke depan, pengelolaan sampah harus berbasis pemilahan dari sumbernya. Dengan begitu, setiap jenis sampah mempunyai jalur pengelolaan yang jelas, mulai dari daur ulang, pengomposan, hingga pemanfaatan sampah plastik melalui teknologi pirolisis,” jelasnya.
Direktur Utama Pertamina Foundation Agus Mashud S. Asngari menyatakan, pihaknya melihat persoalan sampah tidak hanya sebagai persoalan lingkungan hidup, namun juga tantangan sosial dan ekonomi yang memerlukan keterlibatan masyarakat.
Menurut Agus, Pertamina Foundation mendukung pengembangan Petasol karena program ini memadukan inovasi teknologi dengan pemberdayaan masyarakat secara langsung.
“Kami ingin memastikan teknologi tidak berhenti di laboratorium. Teknologi harus hadir di masyarakat dan memberikan manfaat nyata. Petasol adalah contoh bagaimana penelitian dapat menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus membantu menjaga lingkungan,” ujarnya.
Manfaat Program
Agus menambahkan, program ini membuka peluang munculnya unit-unit usaha baru yang berbasis masyarakat.
Sampah yang tadinya tidak memiliki harga kini dapat memberikan nilai tambah dan meningkatkan pendapatan kelompok pengelola sampah.
Di tingkat lapangan, manfaatnya mulai terlihat. Kelompok masyarakat yang selama ini mengelola sampah menghadapi tantangan yang besar.
Mereka harus menanggung biaya pengelolaan sampah plastik yang tidak terjual. Dengan kemajuan teknologi pirolisis, residu ini kini memiliki tujuan akhir yang lebih produktif.
Dari segi lingkungan, manfaat petasol juga sangat signifikan. Sampah plastik yang tidak ditangani dengan baik berpotensi mencemari tanah, sungai, saluran irigasi, pesisir bahkan laut.
Jika terurai menjadi mikroplastik, bahan tersebut dapat bertahan puluhan bahkan ratusan tahun di lingkungan.
Ancaman tidak berhenti pada kerusakan ekosistem saja. Mikroplastik dapat masuk ke dalam rantai makanan dan dapat dikonsumsi oleh manusia.
Para peneliti di berbagai negara terus memperingatkan bahwa polusi plastik telah menjadi salah satu ancaman lingkungan terbesar abad ini.
Oleh karena itu, upaya pengurangan sampah plastik bernilai rendah merupakan langkah penting dalam menjaga kualitas lingkungan.
Selain mengurangi pencemaran, teknologi pirolisis juga berpotensi mengurangi praktik pembakaran sampah secara terbuka yang masih sering terjadi di berbagai daerah.
Praktik ini menghasilkan emisi gas rumah kaca dan melepaskan partikel berbahaya yang dapat membahayakan kesehatan masyarakat.
Dengan hadirnya alternatif pengelolaan yang lebih aman dan bernilai ekonomis, residu plastik yang tadinya hanya menjadi masalah, kini dapat dimasukkan ke dalam sistem pengolahan yang lebih bertanggung jawab.
Peluncuran Petasol sebenarnya menghadirkan pesan yang lebih besar dari sekedar inovasi teknologi. Program ini memberikan pesan bahwa penyelesaian permasalahan lingkungan hidup tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. (ef linangkung)
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.
