KabarJawa.com – Gunung Merapi kembali menunjukkan dinamika khasnya. Selama seminggu, 14–20 November 2025, kubah lava di sisi barat daya mengalami perubahan volume akibat aktivitas longsoran yang terus berlangsung.
Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Agus Budi Santoso mengatakan, aktivitas vulkanik Merapi masih tinggi dan status waspada masih berlaku.
Aktivitas Musim Gugur dan Perubahan Kubah Lava
Pagi dan sore hari di sekitar Merapi cerah, sedangkan sore dan malam hari berkabut. Dari balik kabut, terlihat kepulan asap putih mengepul dari kawah dengan tekanan lemah. Ketinggian asap bervariasi antara 15 hingga 275 meter.
Selama sepekan, Merapi mengeluarkan 1 awan panas guguran dengan jarak luncur 2.000 meter ke arah barat daya menuju hulu Kali Krasak.
Selain itu, tercatat 32 kali guguran lahar ke arah hulu Kali Krasak sejauh 1.800 meter, 14 kali guguran ke arah Kali Bebeng sejauh 1.900 meter, dan 21 kali guguran ke arah Kali Sat/Putih yang juga mencapai ketinggian 1.900 meter.
Analisis kamera pemantau di Ngepos dan Babadan2 menunjukkan adanya perubahan morfologi kecil di Kubah Lava Barat Daya akibat dinamika volume dan guguran lava.
Kubah tengah cenderung stabil tanpa perubahan morfologi yang berarti. Berdasarkan foto udara terakhir per 30 Oktober 2025, volume Kubah Barat Daya tercatat sebesar 4.308.700 m³, sedangkan kubah tengah sebesar 2.368.800 m³.
Kegempaan, Deformasi, dan Kondisi Hujan
Jaringan seismik mencatat 1 kali gempa guguran awan panas (APG), 6 kali gempa vulkanik dangkal (VTB), 434 kali gempa fase ganda (MP), 2 kali gempa frekuensi rendah (LF), 530 kali gempa guguran (RF), dan 6 kali gempa tektonik (TT). Pola kegempaan tiga bulan terakhir menunjukkan aktivitas efusif yang stabil.
Pemantauan deformasi menggunakan EDM dan GPS menunjukkan kondisi stabil. Jarak EDM BAB0 ke reflektor RB2 hanya bergerak pada rentang 3.840.448–3.840.456 meter, sedangkan data baseline GPS Labuhan–Jrakah berada pada rentang 7.108.13–7.108.14 meter.
Hujan turun pada tanggal 20 November 2025 dengan intensitas tertinggi 22,53 mm/jam selama 187 menit di Posko Kaliurang. Belum ada laporan adanya lahar atau peningkatan debit sungai yang berasal dari Merapi, namun kewaspadaan tetap diperlukan, apalagi memasuki puncak musim hujan.
BPPTKG menyimpulkan aktivitas vulkanik Merapi masih cukup tinggi dengan pasokan magma yang terus berlanjut. Aktivitas efusif berpotensi memicu awan panas guguran terutama di sektor selatan-barat daya.
Potensi bahaya antara lain Sungai Boyong sepanjang 5 km; Sungai Bedog, Krasak dan Bebeng sepanjang 7 km; Sungai Woro sepanjang 3 km; dan Sungai Gendol sepanjang 5 km. Lontaran bahan peledak bisa mencapai radius 3 km dari puncak.
BPPTKG meminta pemerintah Kabupaten Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten meningkatkan mitigasi terhadap potensi erupsi, termasuk meningkatkan kapasitas masyarakat dan menyiapkan jalur evakuasi.
Masyarakat diminta untuk tidak melakukan aktivitas di daerah yang berpotensi bahaya, tetap waspada terutama saat hujan, dan mempersiapkan diri terhadap potensi abu vulkanik.
Predikai pertadingan malam ini
Review Film
Berita Terkini
Berita Terkini
Berita Terkini
review anime
Gaming Center
Berita Olahraga
Lowongan Kerja
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Berita Politik
Resep Masakan
Pendidikan


Leave a Reply