Bakteri di Tempe Krispi diduga memicu keracunan massal MBG di MTS Wonosari Gunungkidul
3 mins read

Bakteri di Tempe Krispi diduga memicu keracunan massal MBG di MTS Wonosari Gunungkidul


Memicu keracunan massal mbg/foto: freepik

Kabarjawa.com-Gunungkidul mengalami kasus keracunan massal yang menyeret program makanan bergizi gratis (MBG).

Tempe Krispi yang seharusnya enak, berubah menjadi mimpi buruk setelah hasil laboratorium mengungkapkan fakta yang menakjubkan.

Kantor Kesehatan Kabupaten Gunungkidul (Dinkes) akhirnya membuka suara. Kepala Dinkes, Ismono, mengungkapkan hasil tes Laboratorium Laboratorium Laboratorium dan Laboratorium Kalibrasi (BLKK).

Pemicu Keracunan Massal MBG di MTS Wonosari Gunungkidul

Hasilnya menegaskan bahwa makanan yang seharusnya sehat sebenarnya tercemar oleh berbagai mikroorganisme patogen yang memicu muntah, diare, demam pada lusinan siswa.

Xismono menjelaskan, tim laboratorium memeriksa sisa makanan dan muntah siswa keracunan. Dari hasil tes, tim menemukan tiga mikroorganisme berbahaya.

  • Klebsiella pneumoniae, bakteri ini menyusup ke telur saus mentega, brokoli, wortel rebus, semangka, dan bahkan muntah siswa.

Gejala dalam bentuk demam, pusing, dan mual. Kontaminasi kemungkinan berasal dari bahan makanan yang pencuciannya tidak sempurna atau air yang tercemar.

  • Staphylococcus aureus, bakteri ini terdeteksi dalam semangka dan muntah. Tuduhan kontaminasi karena penanganan makanan yang tidak higienis. Gejala termasuk mual, muntah, sakit perut, diare, kelelahan.
  • Cetakan/ragi, jamur ini muntah siswa. Dugaan, tumbuh karena penyimpanan makanan yang salah, sehingga memicu mual, muntah, dan diare.

“Kami telah menerima hasil tes dari BLKK, dan beberapa jenis bakteri ditemukan baik dari makanan siswa dan dari dapur penyedia makanan,” kata Ismono, Jumat (9/26/2025).

Tidak hanya sampel dari siswa, tim juga menyisir dapur penyedia makanan dari unit layanan pemenuhan nutrisi (SPPG). Tiga jenis sarang bakteri berbahaya dalam nasi dan tempe krispi yang seharusnya menjadi menu andalan.

  • Bacillus cereus, ada dalam nasi dan tempe krispi. Bakteri ini dapat menyebabkan mual, muntah, dan bahkan diare. Biasanya berkembang dalam makanan dengan penyimpanan atau pemrosesan yang salah.
  • Staphylococcus aureus, kembali dalam tempe krispi, memicu gejala yang sama seperti yang dialami siswa.
  • Escherichia coli (E. coli) patogen, bakteri ini tertanam dalam beras. Gejala mual, diare, demam, dan kram lambung.

Kontaminasi terjadi karena bahan cuci yang tidak bersih atau makanan yang tidak matang.

Peringatan Layanan Kesehatan

Ismono menegaskan, penyedia makanan harus segera meningkatkan standar pemrosesan. Mulai dari pemilihan bahan, proses memasak, untuk presentasi, semua harus sesuai dengan SOP ketat.

Dapur harus bersih, mencuci bahan makanan harus dengan air mengalir, dan penyimpanan diperlukan untuk menggunakan rak atau palet untuk menghindari kontaminasi.

“Kami mendesak semua pihak yang terlibat dalam menyediakan makanan, untuk lebih ketat dalam menjaga kebersihan dari dapur ke pelat mahasiswa. Kami akan terus memantau sehingga kejadian ini tidak terjadi,” katanya.

DHO juga mendorong penggunaan peralatan pelindung pribadi (APD) saat memasak, membiasakan pencucian dengan sabun, dan mengendalikan vektor -vektor seperti lalat dan serangga dengan cara yang aman.

Program MBG sebenarnya hadir untuk meningkatkan kualitas gizi anak -anak sekolah di Gunungkidul. Namun, kejadian ini benar -benar berubah menjadi tragedi yang menyebabkan kepanikan orang tua dan trauma bagi siswa.

Kasus ini juga merupakan peringatan kuat untuk semua penyedia makanan sekolah. Satu kelalaian kecil dapat berubah menjadi bencana kesehatan massal. (EF Linangkung)



Predikai pertadingan malam ini

Review Film
Berita Terkini
Berita Terkini
Berita Terkini
review anime

Gaming Center

Berita Olahraga

Lowongan Kerja

Berita Terkini

Berita Terbaru

Berita Teknologi

Seputar Teknologi

Berita Politik

Resep Masakan

Pendidikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *