VIRALTERKINI.ID, Jakarta – Jaringan Aktivis Reformasi Indonesia 1998 (penyerang Jari 98) meminta gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda untuk membantu membebaskan 11 aktivis desa Maba Sangaji yang ditangkap oleh polisi karena menolak penambangan nikel yang dilakukan oleh posisi PT di Timur Halmahera. Koordinator Finger Forward 98, Rahman Thoha mengatakan sebagai pemimpin regional tertinggi, Gubernur Sherly harus memiliki tanggung jawab moral untuk mempertahankan kepentingan rakyatnya dalam mempertahankan warisan adat.
“Gubernur Sherly Tjoanda tidak bisa menghindar. Dia harus bertanggung jawab untuk secara moral mencoba membebaskan 11 aktivis desa Sangaji Maba yang jelas ingin mempertahankan tanah adat dan warisan leluhur. Ini adalah ujian keberpihakan Gubernur Sherly kepada masyarakat,” kata Rahman dalam sebuah pernyataan kepada media, Rabu (6/8) sore.
Menurut Rahman, untuk Gubernur Sherly, upaya untuk mencari aktivis dari desa Maba Sangaji saat ini mungkin jauh lebih penting daripada masalah lainnya. Alasannya adalah karena penangkapan yang dilakukan pada 11 aktivis desa Maba Sangaji menjadi batu uji apakah kriminalisasi akan menjadi pilihan polisi regional Maluku Utara dalam menangani masalah perselisihan tanah adat. Gubernur Sherly, katanya, harus menunjukkan keberpihakannya pada masalah utama yang dihadapi oleh masyarakat, seperti sengketa tanah adat dan polusi lingkungan.
“Ada ribuan tanah adat di Maluku Utara. Jika Gubernur Sherly tidak menunjukkan keberpihakannya maka kejadian ini hampir pasti akan mengulangi dan menargetkan penduduk Maluku Utara lainnya. Karena alasan itu, jika Anda ingin memotong atau menghentikan masalah ini, maka 11 aktivis dari desa Sangaji Maba harus dirilis. Gubernur Sherly harus menunjukkan partiswanya,” ia menjelaskan.
Rahmat juga percaya bahwa 11 aktivis desa Sangaji Maba tidak bersalah. Alasannya adalah, menurutnya, sebelas aktivis hanya berusaha mempertahankan tanah adat mereka dari kerusakan penambangan. Selain itu, kegiatan eksplorasi pertambangan juga membuat sungai dan lingkungan di desa Maba Sangaji menjadi tercemar.
“Kesalahan mereka, apa? Masak hanya karena orang ingin mempertahankan tanah adat mereka dan kemudian menjadi tersangka. Mereka mempertahankan hak kepemilikan mereka bahwa mereka ingin rusak oleh tamu yang tidak dikenal. Selain itu, karena tambang, lingkungan menjadi tercemar.
Rahman Thoha mengklaim bahwa ia akan segera membuat konsolidasi aktivis nasional di seluruh Indonesia untuk membantu pembebasan 11 aktivis di desa Sangaji Maba. Menurutnya, apa yang terjadi pada sebelas aktivis adalah sesuatu yang salah dan tidak bisa dibenarkan. (MJ)
Predikai pertadingan malam ini
Review Film
Berita Terkini
Berita Terkini
Berita Terkini
review anime
Gaming Center
Berita Olahraga
Lowongan Kerja
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Berita Politik
Resep Masakan
Pendidikan


Leave a Reply