
Panen ke-8 Bridantara Pecahkan Rekor Produktivitas Padi Bantul Capai 11,6 Ton per Hektare
KabarJawa.com — Panen padi varietas Bridantara 8 di Padukuhan Krajan, Desa Poncosari, Kapanewon Srandakan, Kabupaten Bantul, mencatatkan hasil yang menyita perhatian.
Varietas padi hibrida ini mampu menghasilkan produktivitas antara 11,3 hingga 11,6 ton Gabah Kering Panen (GKP) per hektar, sekaligus mencetak rekor baru produktivitas padi di Kabupaten Bantul.
Keberhasilan tersebut terungkap dalam kegiatan demplot (demplot) yang digelar pada Sabtu (30/5/2026). Hasil panen tersebut jauh melebihi rata-rata produktivitas padi di Bantul yang saat ini berada di kisaran delapan ton GKP per hektar.
Bupati Bantul Abdul Halim Muslih yang hadir pada panen raya tersebut menilai, capaian tersebut menjadi bukti bahwa peningkatan produktivitas pertanian tidak hanya bergantung pada luas lahan, tetapi juga inovasi teknologi dan penggunaan varietas unggul.
“Hasil panen sebesar 11,3 ton per hektar merupakan capaian tertinggi di Bantul. Ini bukti bahwa teknologi budidaya pertanian mampu meningkatkan produktivitas,” kata Halim.
Produksi Meningkat Meski Lahan Menyusut
Menurut Halim, sektor pertanian Bantul menghadapi tantangan berupa menyusutnya lahan pertanian akibat berkembangnya permukiman dan pembangunan.
Luas lahan pertanian yang sebelumnya mencapai sekitar 30 ribu hektar kini tinggal sekitar 14 ribu hektar yang masuk dalam kategori Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B).
Meski demikian, produksi pangan daerah justru menunjukkan tren positif. Pemkab Bantul mencatat surplus beras sekitar 70 ribu ton ditopang penggunaan benih unggul dan penerapan teknologi budidaya yang lebih modern.
“Sekarang lahannya semakin kecil, tapi panennya lebih banyak dari sebelumnya. Surplus beras Bantul saat ini mencapai sekitar 70 ribu ton,” ujarnya.
Pemkab Bantul berencana melakukan evaluasi lebih lanjut terhadap kinerja Bridantara 8 sebelum mengembangkan varietas tersebut lebih luas.
Evaluasi tersebut meliputi aspek teknis budidaya, biaya produksi, manfaat ekonomi bagi petani, dan kesesuaian varietas dengan karakteristik lahan di berbagai daerah.
“Inovasi ini kami sambut baik. Kalau hasil evaluasinya bagus tentu bisa dikembangkan di tempat lain,” kata Halim.
Hasil Kerjasama Petani dan Yayasan
Program demplot Bridantara 8 merupakan hasil kerjasama Yayasan Swatantra Pangan Nusantara (YSPN) dan Gapoktan Sari Kismo Poncosari.
Melalui program ini, petani berkesempatan menguji varietas padi hibrida yang sebelumnya ditanam di sejumlah daerah seperti Klaten, Sukoharjo, Karanganyar, Boyolali, dan Kabupaten Buleleng, Bali.
Ketua Umum YSPN Marsekal TNI (Purn) Daryatmo mengatakan, salah satu keunggulan Bridantara 8 terletak pada jumlah gabah yang lebih banyak dibandingkan varietas padi pada umumnya.
“Dalam satu helai bisa terdapat sekitar 383 duri, sedangkan varietas lain rata-rata hanya sekitar 280 duri,” ujarnya.
Selain memiliki produktivitas yang tinggi, Bridantara 8 juga dinilai tahan terhadap serangan hama, mampu bertahan pada kondisi genangan air, dan memiliki masa panen yang relatif singkat yakni sekitar 75 hingga 83 hari setelah tanam.
“Varietas ini cukup bandel. Bisa dipanen sekitar 75 hingga 83 hari dan tahan terhadap kondisi air,” kata Daryatmo.
Potensinya mencapai 13 ton per hektar
Ketua Gapoktan Sari Kismo Poncosari, Sarjiyo mengungkapkan, hasil pemasangan ubin di lahan berukuran 2 x 2,5 meter menunjukkan rata-rata terdapat 124 rumpun tanaman dengan perkiraan produksi 11,3 hingga 11,6 ton per hektar.
Menurutnya, produktivitas masih berpeluang meningkat jika proses penanaman dilakukan lebih tepat waktu. Pada musim tanam sebelumnya, petani mengalami keterlambatan yang mengakibatkan umur benih yang digunakan lebih tua dari kondisi ideal.
“Kemungkinan hasil panen masih bisa lebih tinggi. Kalau penanaman lebih tepat waktu, peluang mencapai 13 ton per hektar masih sangat mungkin,” jelasnya.
Panen Bridantara 8 juga ditandai dengan tradisi wiwitan yang dilanjutkan dengan doa bersama sebagai wujud rasa syukur atas hasil panen.
Para petani dan tamu undangan kemudian menikmati sega wiwit di tengah sawah yang baru dipanen, mencerminkan perpaduan inovasi pertanian modern dan tradisi budaya yang masih dipertahankan di kalangan petani Bantul.
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.
